Kerajinan Tembaga Kuningan

Kerajinan Tembaga Kuningan


Di dalam film, tulisan-tulisan, cerita-cerita, entah fiksi maupun fakta, dalam suasana perbincangan yang serius mau pun tidak, dan embuh apa lagi, orang tak bosan-bosannya menziarahi Yogyakarta terutama Malioboro, berulang-ulang kali. Nampaknya kota yang satu ini tak membuat pengunjungnya dirundung kebosanan. Begitu pula dengan intensitas perdagangan produk kerajinan kuningan di Kotagede, Yogyakarta.
“Kotagede” bahkan orang menyebutnya: lahir dan ditakdirkan sebagai pusat kerajinan logam di Yogyakarta. Contoh yang konkrit adalah keistimewaan produk miniatur kerajinan kuningannya.
Kerajinan kuningan berupa miniatur di pusat kerajinan Kotagede, umumnya, tentang hal-hal apa saja yang populer atau telah menjadi ikon Yogyakarta. Becak, sepeda onthel, andong, dan lain sebagainya merupakan beberapa dari sekian item produk miniautur benda yang ukurannya dibuat “bonsai” alias mini dari kerajinan kuningan.
Jangan tanya tentang “kemiripan” miniatur kerajinan kuningan Kotagede karena sangat mirip dengan yang aslinya. Hal itu barangkali karena pembuatan miniatur dari kerajinan kuningannya memakan waktu yang lumayan lama, bisa seminggu atau lebih, tergantung dari kerumitan dari benda yang ingin dibuat “mini”.

Harga yang dibandrol untuk miniatur kerajinan kuningan Kotagede berupa miniatur ini sangat variatif. Ada yang puluhan ribu, ratusan, hingga jutaan tergantung kerumitan dari proses pembuatan, bentuk, dan segimatisasi bahan baku.
Namun, njenengan dan Anda-Anda sekalian jangan berkecil hati. Bila kita membelinya langsung dari tangan pengrajinnya, maka tawar-menawar harga untuk menyesuaikan isi kantong kita adalah hal yang tidak mustahil dilakukan, dan kita akan dapat memboyong produk kerajinan kuningan incaran kita itu dengan harga yang menggembirakan.
Bengkel-bengkel atau galeri-galeri miniatur kerajinan kuningan Kotagede yang dapat Anda singgahi salah-satunya adalah Sansans Craft, bengkel kerajinan logam milik Pak Samidi yang beralamatkan Desa Semoyan, Kotagede, Yogyakarta ini, Anda dapat memilih 100 item bentuk produk miniatur kerajinan kuningan yang ia kreasikan.

Batik Jumputan

Batik Jumputan
Batik dapat berkembang pesat di Indonesia bahkan mulai dikenal di luar negeri, Proses pembuatan batik memang mempunyai ciri tertentu karena keindahannya dan ketelitiannya serta keunikannya, sehingga banyak dikagumi orang-orang asing.
Pada mulanya kain batikhanya dibuat dari bahan kain mori, namun pada masa sekarang berbagai jenis kain seperti berkolin, santung, belacu, bahkan sutera pun dapat dibuat batik.
Di sini yang akan di perkenalkan adalah mengenai batikjumputan (batik celup ikat), batik jumputan adalah Batik Jumputan adalah batik yang dikerjakan dengan cara ikat celup, di ikat dengan tali di celup dangan warna.

Batik ini tidak menggunakan malam tetapi kainnya diikat atau dijahit dan dikerut dengan menggunakan tali. Tali berfungsi sama halnya dengan malam yakni untuk menutup bagian yang tidak terkena warna
Menurut sejarah, teknik celup ikat berasal dari tiongkok, teknik ini kemudian berkembang sampai keindia dan wilayah-wilayah nusantara. Teknik celup ikat diperkenalkan ke nusantara oleh orang-orang india melalui misi perdagangan teknik ini mendapat perhatian besar terutama karena keindahan ragam hiasnya dalam rangkayan warna warni yang menaawan. Penggunaan teknik celup ikat ini antara lain di sumatra, khususnya palembang, di kalimantan selatan, jawa dan bali.

Batik Jumputan dapat dilihat dikampung Paseko,purbayan,Kotagede,Yogyakarta

Pasar Keroncong Kotagede

Pasar Keroncong Kotagede


Pasar Keroncong Kotagede kembali digelar. Event yang diadakan untuk kali kedua ini akan berlangsung setiap akhir tahun. Ada tiga panggung di seputaran Pasar Kotagede, yaitu Panggung Sayangan di sebelah barat, Panggung Sopingen di barat daya, dan Panggung Loring Pasar di utara.
Pasar Keroncong Kotagede dimulai pukul 19.00 WIB dan dibuka oleh Slamet Raharjo. Acara ini akan menampilkan 16 orkes keroncong dari Bandung, Malang, Semarang, dan tentu saja Orkes Keroncong Kotagede.
Kepala Seksi Seni Tradisi Kerakyatan Dinas Kebudayaan DIJ Drs Danang Sujarwo mengatakan acara ini merupakan salah satu kegiatan yang mengangkat warisan budaya asli Indonesia, yaitu musik keroncong. “Adanya teman-teman di Kotagede yang masih aktif memainkan musik keroncong, diharapkan warisan ini tetap terjaga keberadaannya,” jelasnya.
Salah seorang penggagas kegiatan di Kotagede, Muhammad Natsir, mengatakan acara yang terinspirasi Ngayogjazz yang pernah diadakan di Kotagede ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan keroncong di Kotagede dan sekitarnya. “Selain itu diharapkan acara ini juga dapat memberikan inspirasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya itu,” tambahnya.

Acara ini akan dimeriahkan  Oppie Andaresta, Woro (di atas rata-rata), Syaharani, Subarjo HS, Yati Pesek, Retno Handayani, OK Rinonce, OK Swastika Muda, Jempol Jenthik Orkes Keroncong, Gambang Semarang Art Company, dan OK Lolycong. Ke-16 orkes keroncong itu akan menyajikan berbagai gaya dan aliran berbeda layaknya sebuah pasar dengan berbagai aktivitasnya. (cr1/laz)
Sumber:https://www.radarjogja.co.id/3-panggung-pasar-keroncong-kotagede-2016/

Masjid Agung Mataram

Masjid Agung

Menelusuri fakta sejarah di Kotagede Jogja rasanya kurang jika belum singgah ke Masjid Agung Kotagede yang merupakan masjid paling tua di Yogyakarta. Letak Masjid Agung Kotagede ini masih terletak pada area yang sama dengan Makam Pendiri Kerajaan Mataram.

Sumber:http://www.initempatwisata.com/wisata-indonesia/jogjakarta/inilah-5-spot-wisata-kotagede-yogyakarta-paling-menarik/3328/


Reruntuhan Benteng

Reruntuhan Benteng


Reruntuhan benteng adalah salah satu spot yang wajib dikunjungi tatkala berwisata ke Kotagede Yogyakarta. Reruntuhan ini memiliki ukuran seluas 400 x 400 meter lengkap dengan parit yang ketika di zaman kerajaan dulu, digunakan sebagai benteng pertahanan keraton. Tembok benteng ini memiliki ketebalan 4 kaki yang berbuat dari bongkahan batu berukuran besar.
Sumber:http://www.initempatwisata.com/wisata-indonesia/jogjakarta/inilah-5-spot-wisata-kotagede-yogyakarta-paling-menarik/3328/

Makam Raja Mataram

Makam Raja Mataram
Sejauh 100 meter di arah selatan Pasar Tradisional Kotagede Yogyakarta, kamu bisa menjumpai tembok tinggi yang menaungi makam raja dan tokoh-tokoh pendiri Kerajaan Mataram. Gapura dan gaya arsitektur khas Hindu bisa dilihat di sini. Sekilas, mirip bangunan-bangunan di Bali.
Pada masing-masing gapura tersebut terdapat pintu kokoh dan tebal yang terbuat dari kayu berhiaskan ukuran-ukiran indah. Para Abdi Dalem yang menjaga kompleks pemakaman mengenakan pakaian adat Jawa, mengawal makam Sultan Hadiwijaya, Ki Gede Pemanahan, serta keluarga Panembahan Senopati.

Yangko Kotagede

Yangko

Yangko merupakan makanan tradisional yang tidak boleh terlewatkan.

Yangko adalah makanan khas kota Yogyakarta yang terbuat dari tepung ketan. Yangko berbentuk kotak dengan baluran terigu, kenyal, dan rasanya manis. Pada rasa aslinya, Yangko berisi campuran cincangan kacang dan gula, seperti kue moci asal Jepang. Hanya bedanya, moci lebih lembek dan lebih kenyal dibandingkan yangko. Selain rasa aslinya, kini yangko juga memiliki rasa buah-buahan, seperti strawberrydurian, dan melon. Yangko banyak ditemui di daerah Kotagede, Yogyakarta.

Kerajinan Perak Kotagede

Kerajinan Perak Kotagede

Yogyakarta - Kotagede, sebuah kecamatan yang terletak di Kota Yogyakarta, Provirisi Daerah Istimewa Togyakarta (DIY). Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Bantul sebelah utara, timur dan selatan, serta berbatasan dengan Kecamatan Umbulharjo di sebelah barat.

Sejak zaman dahulu, penduduk asli Kotagede yang disebut rakyat Kalang memiliki keahlian membuat kerajinan ukiran kayu, perak dan emas, sehingga tidak heran jika kemudian Kotagede menjadi sentra kerajinan perak yang indah dan terkenal luas hingga ke mancanegara. Kini Kotagede bahkan menjadi identik dengan kerajinan perak.

Ratusan warga Kotagede mengantungkan hidupnya dari Kerajinan Perak ini. Lihat saja, di sepanjang jalan utama ini berjajar toko-toko yang menjajakan kerajinaan Perak Kotagede. Kata 'perak' dan 'silver' tertera di kanan-kiri Jalan Kemasan, Jalan Mondorakan, hingga Jalan Tegal-gendu.

Pengrajin Perak di Kotagede terkenal dengan produknya yang unik, halus dan telaten dalam menggarap produk peraknya sehingga menghasilkan karya seni bernilai tinggi. Ratusan jenis kerarijinan perak dihasilkan oleh Pengrajin Perak, mulai dari cincin, giwang, bros, miniatur sepeda, becak, andhong, kapal-kapalan dan berbagai hiasan lainnya.

Harga jual Kerajinan Perak Kotagede bervariasi, mulai yang termurah bros rata-rata Rp 10 ribu, cincin perak mulai harga Rp 100 ribu, miniatur becak Rp 250 ribu, miniatur andhong Rp 200 ribu. Bahkan ada yang harganya mencapai puluhan juta rupiah tergantung tingkat kerumitan dan banyaknya bahan baku yang digunakan.

Direktur jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengungkapkan, saat ini pihak Kementerian Perindustrian memprioritaskan untuk pengembangan industri kerajinan nasional karena berdaya saing tinggi serta menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa.

Menurut Euis, industri kerajinan perak yang termasuk kategori industri kreatif potensial untuk terus dikembangkan karena produknya diminati pasar dalam dan luar negeri. Industri kerajinan perak juga mampu menciptakan nilai tambah tinggi karena mengusung gagasan yang dipadukan dengan seni serta inovasi dan teknologi.

Di Indonesia sendiri, industri kerajinan sudah berkembang di sejumlah daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Solo, dan Bali. Untuk Yogyakarta, misalnya, industri produk kerajinan berkembang pesat. Mulai dari batik, anyaman, ukiran kayu, kain tenun/ikat tradisional) keramik gerabah hingga perhiasan perak. Meski demikian, kreativitas dan inovasi harus terus ditingkatkan oleh produsen/perajin produk kerajinan, sehingga juga bisa mengikuti selera pasar.

"Daya saing industri kreatif produk kerajinan harus terus ditingkatkan. Hal ini mengingat persaingan di pasar dalam negeri dan internasional yang makin ketat. Desain produk kerajinan yang terus berkembang serta selalu mengikuti tren pasar juga harus dilakukan pelaku industri kerajinan," papar Euis, pekan lalu, saat berkunjung ke Kotagede.

Sumber:sumber : Harian Ekonomi Neraca

Kuliner Jajanan Kipo

Kuliner Jajanan Kipo

Satu lagi kekayaan kuliner yang menjadi ciri khas Yogyakarta, adalah Kipo makanan khas yang berasal dari Kotagedeyang merupakan sebuah wilayah di Kota Yogyakarta. Makanan ini direkomendasikan bagi wisatawan yang ingin menikmati kudapan khas di Kotagede. Jajanan Kipo ini bisa Anda temukan di Pasar Kotagede, Yogyakarta atau di toko oleh-oleh.
Kipo sudah cukup dikenal sebagai makanan khas dengan rasa yang khas pula sebagai kudapan yang selalu menmanjakan lidah. Makanan ini biasa berbentuk lonjong berwarna hijau dan legit serta manis. Menurut tuturan orang-orang tua pembuat Kipo di Kotagede disebutkan bahwa pada masa lalu orang sering menanyakan tentang jenis makanan ini dengan bertanya dalam bahasa Jawa, “iki apa?” (Ini apa). Dari kalimat iki apa inilah kemudian berkembang menjadi akronim kipa atau Kipo.
Ukuran Kipo yang tak terlalu besar ternyata justru malah membuat banyak orang semakin ketagihan karena memiliki rasa yang lezat.  Kelezatan rasa ini tak bisa lepas dari bahan alami yang digunakan dalam pembuatan Kipo. Proses pembuatan Kipo ini terhitung sangat sederhana. Terlebih dulu disiapkan adonan tepung beras ketan dengan santan dan sedikit garam yang diberi warna hijau yang berasal dari daun pandan. Untuk isinya parutan kelapa dicampur adonan gula jawa yang dinamakan enten-enten.
Perpaduan enten-enten dengan kulit Kipo yang terbuat dari ketan yang diadoni dengan santan dan sedikit garam ini setelah dipanggang akan menghasilkan rasa yang manis-manis gurih. Kipo yang belum dipanggang biasanya diletakkan pada selembar daun pisang, dimana pada setiap satu lembar daun pisang biasanya diisi dengan susunan berjajar memanjang sebanyak 5 hingga 8 butir. Susunan Kipo mentah di atas daun itulah yang selanjutnya dipanggang diatas wajan dari tanah liat yang dipanaskan dengan arang atau kompor berdurasi  2 hingga 3 menit.
Untuk menghasilkan Kipo yang bagus dan matang, Kipo harus dibolak-balik sampai matang. Aroma Kipo yang berasal dari perasan daun suji, kelapa, gula, dan daun pisang itu benar-benar terasa khas harumnya. Satu potong Kipobesarnya tidak lebih besar dari jempol tangan orang dewasa. Kipo menjadi makanan unik yang direkomendasikan bagi Anda, karena harganya juga sangat terjangkau. Hanya saja ada yang perlu diperhatikan, utamanya bagi Anda yang hendak menjadikannya sebagai oleh-oleh, disarankan agar segera dinikmati, pasalnya Kipo termasuk jenis makanan alami tanpa bahan pengawet, sehingga tidak dapat bertahan lama, paling lama hanya 24 jam saja.

Sumber: https://ksmtour.com/wisata-kuliner/kuliner-yogyakarta/kipo-jajanan-tradisional-khas-kotagede-yogyakarta.html

Wisata Pasar Legi Kotagede

Pasar Legi Kotagede

  Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa pasar tertua di Jogja adalah Pasar Beringharjo. Yang di bangun tak lama setelah Kraton Jogja berdiri. Tapi tahukah kalau ada pasar yang jauh lebih tua.
Pasar tersebut tak lain dan tak bukan adalah pasar Sargede yang kini popular dengan nama Pasar Legi Kotagede. Pasar ini jauh lebih tua karena di bangun pada abad 16. Konon berdasar catatan sejarah yang ada pasar ini juga lebih dulu ada daripada Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede.
Pasar sebagai pusat ekonomi di anggap jauh lebih penting bagi masyarakat Mataram daripada kerajaan sebagai pusat pemerintahan. Kala itu Ki Gede Pemanahan mendapat hadiah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya setelah dirinya berhasil menahlukan Arya Penangsang.
Pasar dianggap bukan hanya sebagai pusat ekonomi semata. Tapi lebih jauh dari itu pasar adalah tempat interaksi warga dimana segala kegiatan bisa terjadi di pasar. Pasar juga tempat berkumpul seluruh kalangan dari rakyat jelata hingga mereka yang kaya.
Seperti kerajaan pada umumnya, tata kota atau wilayah ini pada jaman dulu juga telah menganut konsep Catur Gatra Tunggal. Dimana dalam sebuah pemerintahan itu harus ada 4 hal yakni kraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai tempat berkumpul dan budaya, masjid sebagai tempat ibadah dan pasar sebagai pusat ekonomi.
Dinamakan Pasar Legi karena puncak keramaian ada di hari pasaran legi dalam penanggalan Jawa. Pasaran ini akan terjadi setiap 5 hari sekali, selain legi masih ada pasaran paing, pon, wage dan kliwon.

Kotagede

KOTAGEDE

masjid mataram kotagede
            Kotagede berasal dari kata Kota dan Ge'de,sedangkan arti dari kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri.Ge'de merupakan sebuah kata jawa yang berarti "besar"/"pembesar"/"orang penting".Kotagede merupakan sebuah kawasan pemukiman yang berisi orang-orang penting/pembesar yang memiliki sosial dan budaya sangat pekat. 

Sejarah Kotagede

Sekitar abad ke-10 kerajaan ini memindahkan pemerintahannya ke Jawa Timur sehingga rakyat berbondong-bondong meninggalkan Mataram sampai akhirnya habis dan wilayah ini kembali sepi dan menjadi hutan kembali.Sekitar 6 abad kemudian, Pulau Jawa merupakan kekuasaan dari Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah. Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu memberi hadiah kepada Ki Gede Pemanahan karena prestasinya dalam mengalahkan musuh-musuh dari kerajaan. Hadiah tersebut berupa hutan yang dikenal dengan nama Alas Mentaok. Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya akhirnya pindah ke tempat tersebut yang sebenarnya merupakan hutan bekas kerajaan Mataram Hindu pada waktu yang lalu.Ki Gede Pemanahan membangun desa kecil di hutan tersebut dan perlahan-lahan desa tersebut semakin berkembang sampai Ki Gede Pemanahan wafat. Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh puteranya yang bergelar Senopati Ingalaga. Desa tersebut di bawah kepemimpinan Senopati Ingalaga tumbuh dan terus berkembangan dengan pesat sehingga berubah menjadi sebuah kota yang sangat ramai dan makmur dan akhirnya disebut dengan Kotagede atau Kota Besar.Dalam kiprahnya sebagai pemimpin, Senopati Ingalaga juga membangun benteng dalam ( cepuri ) yang cakupannya mengelilingi kraton dan juga dibangun benteng luar ( baluwarti ) yang mengelilingi wilayak kota seluas sekitar 200 Ha. Selanjutnya Senopati Ingalaga menjadi raja pertama Mataram Islam yang bergelar Penembahan Senopati dengan pusat pemerintahanya di Kotagede.Selanjutnya dibawah kepemimpinan Panembahan Senopati, kerajaan Mataram yang dipimpinnya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Pati, Madiun, Kediri dan Pasuruan. Hampir seluruh Tanah Jawa menjadi wilayah kekuasaanya kecuali Batavia dan Banten.Kerajaan Mataram Islam ini mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan raja yang ke-3 yaitu Sultan Agung yang merupakan cucu dari Panembahan Senopati. Sultan Agung dalam pemerintahannya pada tahun 1613 memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Karta Pleret Bantul.Bila wisatawan menyusuri wilayah Kotagede dengan jalan dan gang yang sempit maka akan mengingatkan kita pada kebudayaan Mataram pada abbad ke 16 Masehi. Penduduk yang tinggal di Kotagede sekarang ini bermata pencaharian sebagian besar sebagai pedagang merangkat sebagai pengrajin perak dan batik. Sementara itu struktur bangunan yang berada di Kotagede sedikit berbeda dengan bangunan rumah Jawa pada umumnya. Bentuk rumah yang besar dikelilingi tembok yang tebal dan tinggi merupakan ciri bangunan peninggalan sebagai bentuk pertahanan pada masa kerajaan Mataram Islam pada waktu yang lalu.Seiring dengan perkembangan waktu, Kotagede saat ini menjadi kota yang semakin ramai kendati sudah tidak sebagai ibukota kerajaan Mataram. Saat menyusuri Kotagede, anda akan banyak menemukan bagunan tua yang dibangun sekitar tahun 1930 dengan berbagai macam bentuk dan arsitek yang berbeda dan unik. Sepanjang jalan anda akan menemukan deretan toko yang hanya menjual kerajinan perak yang sebelumnya merupakan kerajinan yang turun menurun yang sudah ada pada zaman Mataram dahulu.Selain mengekplorasi dan melihat peninggalan pada zaman dahulu yang berupa bangunan tua, ada juga tempat lain yang tepat untuk anda kunjungi karena masih dalam wilayah Kotagede. Tempat-tempat ini juga banyak menyimpan sejarah yang luar biasa bila dibuka.Tampat-tempat tersebut meliputi : 

masjid mataram kotagede
Masjid Agung Kotagede

makam raja mataram
Makam Raja-Raja Mataram
pasar legi kotagede
Pasar Kotagede
dan sejumlah peninggalan sejarah Mataram yaitu Situs Watu Gilang. Di tempat ini juga dapat bekas reruntuhan benteng yang dapat ditemukan di kawasan tertua di daerah ini. Anda juga dapat melihat toponim perkampungan yang masih mempertahankan tata kotanya seperti jaman dahulu.


Sumber:http://www.njogja.co.id/kota-yogyakarta/kotagede-yogyakarta/